Pisang Ambon Misterius di Handle Pintu

pisang-ambon-di-handle-pintu

Kisah pisang ambon ini bermula, kira-kira sepuluh hari lalu, saya pulang dari kerja. Sudah sore, mendekati jam 17.00 WIB. Di depan pintu, terlihat satu kantong plastik kresek menggantung.

Ditaruh di handle pintu. Saya ambil plastiknya baru membuka pintu. 

***

 Benar-benar tidak tahu siapa yang memberinya, saya memang sengaja terlalu kelihatan kalau mencari informasi. Hanya satu hal yang saya anggap pasti, bahwa dua tandan pisang ambon itu memang diberikan kepada saya.

Kalaulah salah rumah, saya minta maaf kepada Allah saja. Karena memang sama sekali tak meninggalkan jejak apapun. Kantong plastiknya berwara hitam polos.

Tidak ada cap atau nomor ponselnya. Apalagi stiker bergembar wajah seseorang dengan tulisan, jangan lupa coblos... halah.

Juga tak ada tanda-tanda yang mengarah kepada sebuah petunjuk. Misalnya potongan kertas, meski itu teka-teki yang harus saya ungkap.

Saya coba buka grup WA perumahan, jangan-jangan ada bisa dijadikan petunjuk. Nihil.

Sampai tiga hari seingat saya, rahasia siapa sebenarnya yang memberikan pisang ambon itu. 

Hingga akhirnya saya pada sebuah kesimpulan, ada kebaikan di dalam pemberian. Mungkin yang memberikan pisang ambon tadi sengaja tidak ingin saya ketahui identitasnya.

Saya langsung berdoa kepada Allah ketika mendapatkan makanan itu. Saya sertakan kalimat: Ya Allah, berikanlah kesehatan dan kemudahan rezeki bagi siapapun itu yang sudah memberikan pisang ambon ini kepada saya.

Sudah. Iya bagi saya semudah itu. Karena sangat percaya Gusti Allah tidak akan salah orang atas doa saya.

***

Suatu sore, ketika pisang ambon yang diberikan orang misterius tinggal beberapa biji, saya keluar mengendarai motor.

Di simpang jalan, masih di komplek perumahan tempat saya tinggal, ada tetangga yang sedang mencuci mobilnya. Ia lantas melambaikan tangan ke arah saya.

"Mas, kemarin mas sebelah ini ngasih pisang," ujarnya.

Ketahuan sekarang siapa pelakunya (pelaku baik ya).

"Kemarin pas dia main ke sini pernah bilang, kalau pisang di belakang rumahnya ada yang tua dan masak suruh ditebang saja," ujar tetangga saya.

Ia lalu menambahkan, "Nah ada yang masak, ya sudah saya tebang. Sesuai perintah orangnya, saya bagikan ke  (tetangga menyebut nama-nama tetangga) juga ke rumah mas."

"Cuma hari itu sampeyan saya ketuk-ketuk pintu depan nggak kedengeran, saya cantolin saja di gagang pintu," ujar tetangga saya.

***

Jadi begini teman-teman, tetangga depan rumah saya yang punya pisang tinggalnya di ujung pulau. Ia datang ke rumah yang satu lokasi dengan perumahan tempat saya tinggal kalau ada keperluan.

Sesekali ada orang yang datang dan bermalam, masih saudara tetangga yang baik hati tadi. Namun belum tentu satu minggu sekali.

Artinya hubungannya dengan kami penghuni perumahan tidaklah sedekat dengan yang lain. Memang, ketika ia datang pasti kami berbincang. Terutama saya yang tinggal di depan rumahnya yang sering kosong

Dan ia memikirkan pisangnya untuk saya, tetangga sebelah kanan saya, depan rumah saya persis dan tetangga yang saya ceritakan sedang mencuci mobil.

Pisang ambon yang membuat saya memohon, berikan kebaikan untuk tetangga saya. Hingga artikel ini saya tulis dan kalian baca, tetangga pemilik pisang tidak mencoba untuk memberitahu bahwa ia menitipkan pisang.

Sunyi.... saya salut sekali. ***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel