Adzan Isya yang Selalu Saya Tunggu Lebih dari Biasanya

Adzan Isya sudah ada sejak zaman saya belum lahir. Ketika saya lahir pun diperdengarkan adzan dan iqomat di telinga saya. Sebagai muslim, bukan hanya saya, panggilan dari masjid, musala ini akan selalu terdengar setiap malam.

Namun ada momen di mana adzan isya menjadi panggilan yang selalu saya tunggu, melebihi hari biasanya. Yakni ketika dilantunkan muazin di bulan Ramadan, seperti saat ini. Tulisan ini saya buat saat memasuki hari ke 10.

jemaah-datang-setelah-adzan-isya

Saya nggak muda lagi. Dan saya harus menyadari sesuatu yang dulu dianggap nggak penting sekarang harus diseting menjadi teramat penting. Mengapa saya menunggu panggilan tersebut melebihi hari-hari biasanya?

Sebab setelah salat isya akan dilanjutkan dengan salat tarawih. Pemikiran saya sangat sederhana. Sesederhana saya memahami agama saya. Jika ikut salat tarawih berjemaah di masjid dalam satu malam, sudah berapa kali saya membaca Al Fatihah, berapa kali saya melafazkan kalimat suci.

Astaghfirullahaladziim, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Atau salawat Nabi Muhammad SAW. Bagi saya, adzan isya adalah penanda bahwa saya harus bergegas meninggalkan kemalasan saya di depoan teve, meninggalkan obrolan ngalor ngidul bersama teman-teman dan kegiatan lain.

Jujur saja, jarak masjid dengan rumah yang saya tempati nggak lebih dari 300 meter. Namun hari-hari biasanya seperrinya saya asing dengannya. Kadang dan sering saya pulang malam, saat salat isya berjemaah sudah usai.

Sementara kalau Ramadan, kerja sampai malam suasananya sangat berbeda. Mungkin karena umat Islam banyak yang salat isya ke masjid, sehingga tak seramai biasanya yang menggunakan jasa saya malam hari.

Sudah saya putuskan untuk pulang kerja jam lima sore selama Ramadan. Dan puasa ini saya memang berniat bisa menjalankannya lebih baik. Lebih baik menurut saya, karena soal kekhusukan saya yang paling tahu ya Allah semata. Setidaknya saya ingin mengurangi yang tidak baik, agak kurang baik pada Ramadan tahun sebelumnya.

Adzan isya adalah sebuah momen di mana saya akan menentukan, mengambilnya atau membiarkannya lepas. Salat lima waktu saja masih sering bolong dan telat dari waktu yang ditentukan. Sayang kalau ada kesempatan bisa salat isya, tarawih dan witir dalam satu rangkaian.

Aneh, ketika pada Ramadan yang baru sepertiga jalan ini, rasanya salat tarawih sangat nyaman. Padahal kalau dipikir surat yang dipakai imam muda zaman ini bukan ayat yang bisa dikatakan pendek. Saya merasakan kenyamanan itu ketika mencoba melakukan segala sesuatu dengan keikhlasan. Ikhlas yang semampu saya.

Saya ikhlaskan diri saya berdiri di atas sajadah dan membiarkan imam membaca surat apapun. Kekihlasan itu menghasilkan energi untuk menjalaninya dengan perasaan senang. Dan perasaan ini dahulu sangat jarang saya rasakan. 

Dahulu, kalau imam membaca surat yang panjang rasanya kaki capek. Sajadah yang ada di depan kaki pun kadang berubah sendiri motifnya. Karena saya memang membiarkan otak melanglang buana ke mana-mana. 

Belum lagi kalau kultum. Bagi saya kultum ya kuliah tujuh menit. Kalau ada ustaz yang memberikan siraman rohani lebih dari tujuh menit, rasanya mulai muncul bayangan salat berjemaahnya bakal berakhir malam. Padahal ada tayangan acara di televisi yang menjadi favorit saya.

Adzan Isya vs Adzan Maghrib

Kalau yang lain mungkin lebih asyik menunggu adzan maghrib, saya tetap menunggu adzan isya. Mungkin belakangan ini saya mencoba menjalankan puasa Senin dan Kamis, jadi sudah terbiasa menahan lapar. Oh, ya, puasa sunat tadi saya lakukan setelah mencoba menjalaninya beberapa kali dan penyakit mag saya sembuh dengan sendirinya.

Bukan hal ringan lho kalau kita mau jujur. Waktu selepas berbuka puasa adalah surga dunia. Paling uenak nonton Youtube karena siangnya nggak boleh nonton di kantor atau tempat kerja. Atau nonton teve dengan jumlah saluran yang begitu banyak.

Dan... makanan di perut pun belum terolah tuntas oleh alat pencernaan kita. Kalau kepala kena bantal, alamat bakal tidur. Atau istilah sopannya maaf tertidur. Bagaimana tidak, perut kenyang, sudah salat maghrib, enaknya ya santai depan televisi.

Itu lumayan berat bagi saya di Ramadan tahun-tahun lalu. Seribu alasan mungkin akan saya sampaikan ketika ada yang nanya kok nggak tarawih berjemaah.

  • Allahu akbar, Allahu akbar (diucapkan 2 kali): Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
  • Asyhadu Allaa ilaaha illa Allah (diucapkan 2 kali): Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah.
  • Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (diucapkan 2 kali): Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah
  • Hayya ‘alash shalaah (diucapkan 2 kali): Mari kita menunaikan sholat.
  • Hayya ‘alal falaah (diucapkan 2 kali): Mari kita meraih kemenangan.
  • Allahu akbar Allahu akbar (diucapkan 1 kali): Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
  • Laa ilaaha illa Allah  (diucapkan 1 kali): Tiada Tuhan selain Allah.

Itulah lafaz adzan isya, sama dengan salat wajib lainnya kecuali subuh yang ada tambahannya. Pada adzan subuh, terdapat sedikit perbedaan yakni menyelipkan kalimat taswib setelah lafal ‘Hayya ‘alal falaah” yakni ditambahkan “Asshalaatu khairu minnauum” artinya sholat lebih utama daripada tidur.

Apakah kalian juga merindukan lantunan adzan isya pada Ramadan 1443 Hijriyah kali ini?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel