Jemaah Bocah Salat Subuh yang Membuat Merinding

cuttingstickerupdate - Pagi tadi, Jumat (8/4/2022) saya menjalankan salat subuh berjemaah di dekat rumah. Alhamdulillah, datangnya Ramadan memang biasanya dimanfaatkan muslim untuk lebih banyak menjalankan salat berjemaah.

Karena salat di masjid bukan seperti masuk sekolah zaman saya kecil dulu, maka tempatnya bisa pindah-pindah. Saya juga nggak boleh egois misalnya dengan ngotot harus menempati posisi dekat pintu.

bocah jemaah salat subuh sakit perut

Meski alasannya sambil jaga sandal, mengawasi motor atau sebagainya. Para ustaz berceramah, salat itu komunikasi sama Allah. Kan ya nggak asyik kalau harus pakai alasan alasan tersebut.

Kali ini saya dapat tempat baris ketiga sebelah kanan. Namun di sebelah kanan saya ada seorang bocah yang usianya kira-kira empat atau lima tahun.

Ia datang bersama ayahnya. Sebenarnya si kecil ingin salat samping ayahnya, namun tak diperkenankan karena tempatnya memang sempit jika harus berbagi dengan si bocah.

Jadilah akhirnya si ayah berdiri di depan saya posisi paling kanan, berada di depan persis anaknya.

Saya tidak memperhatikan sikap si bocah atau ayahnya. 

Lantas salat subuh pun dimulai. Sama-sama berdiri satu shaf, di sampngnya persis, saya merasakan si kecil di sebelah kanan saya tampak tak tenang.

Ia menggenggam tangannya, bukan bersedekap. Kakinya juga terasa digerak-gerakkan. Saya memandang ke arah sajadah, namun kaki si kecil sesekali menyentuh tepi sajadah saya.

Saya ingin menjalankan salat dengan khusuk. Namun mungkin saya memang perlu banyak belajar tentang khusuk tadi, karena telinga saya masih menangkap suara boicah dei dekat saya.

"Abi, sudah nggak tahan," ucapnya.

Tidak terlalu lirih karena telinga saya masih mampu mendengarkannya.

Lalu ruku dan sujud. Saat sujud kedua, semua jemaah salat subuh berdiri untuk rakaat kedua. Namun si bocah masih duduk. Ia mendekati kaki ayahnya sambil memegang perutnya.

Saya memang menatap sajadah, sekali lagi saya memang harus benyak belajar salat yang tidak memikirkan yang lain selain Allah SWT. Saya tidak mengalihkan pandangan, namun gerakan tubuh si kecil terlihat oleh sudut pandang mata saya.

Beberapa kali ia menyebut ayahnya. Dan selalu diikuti dengan kalimat sudah nggak tahan.

Saya akhirnya paham si bocah menahan sakit perut dan nggak tahan lagi untuk buang air besar.

Sejumlah gerakan aneh dilakukan si bocah agar sesuatu itu tidak keluar. Bahkan di satu kesempatan, saya merasakan lantai masjid bergetar sedikit ketika ia melompat-lompat.

Kebtulan imam yang memimpin salat subuh jemaah menggunakan ayat yang cukup panjang. Bukan diambil dari juz 30 atau yang biasa disebut Juz Amma.

Soalnya kalau yang dibaca surat dari Jus Amma, Insya Allah saya tahu karena memang diwajibkan oleh ayah saya (almarhum) yang guru ngaji kecil di kampung dan juga ibu saya, guru agama yang galak.

Saya mencoba untuk fokus, namun tetap saja gendang telinga saya tembus. Rintihan si bocah membuat merinding. Mungkin bukan hanya saya yang pernah memiliki pengalaman seperti dia.

Sakit perut, rasanya ingin segera dikeluarkan, sementara kondisinya tak memungkinkan untuk langsung jongkok dan melepas hasrat di tempat.

Saya ngaku deh, di SD saya pernah dua kali buang air besar dua kali di celana. Byuh, baunya sangat menyengat. Sejak saat itu saya bahkan sering diejek teman-teman sebaya.

Malunye.......

Dalam salat, saya turut berdoa dalam hati semoga salat subuh segera berakhir. Benar-benar tak mampu menulikan telinga saya dari suara lemahnya si kecil menahan sesuatu itu.

Alhamdulillah, begitu salam kedua diucapkan. Si kecil segera menarik tangan ayahnya.

Saya lihat mata di ayah memandang tajam anaknya, membuat si bocah terdiam. Namun sesuatu yang bergolak dalam perutnya menimbulkan kekuatan itu.

Lagi-lagi ia menyenggol tangan ayahnya sambil berkata, "Abi, sudah nggak kuat."

Lalu di ayah berdiri dan menarik tangan anaknya. Kali ini saya bisa melirik karena salat sudah selesai.

Wajah si kecil terlihat menahan sakit. Ada keringat di wajahnya yang bersih, padahal seluruh kipas angin di masjid dinyalakan saat salat.

Saya pun membatin, "Selesai perjuangan beratmu, Nak!"

Jemaah lalu berdoa, lalu diteruskan dengan siraman rohani subuh yang diadakan selama Ramadan.

Namun saya memilih selesai berdoa pulang. Perut saya mendadak agak mulas. ***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel