Jualan Bensin Eceran dan Tipisnya Kepercayaan Itu

Jualan bensin eceran dengan mudah dapat Anda temukan di berbagai pelosok negeri ini. Bahkan sejumlah pembalap MotoGP di Mandalika pernah mengunggah foto soal hal ini.

Di negara mereka, jualan bensin eceran tidak ada. Maklum jika hal tersebut dianggapnya sesuatu yang sesuatu banget.

Ini pengalaman saya saat kehabisan bensin dalam sebuah perjalanan di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. 

jualan-bensin-eceran

Pas banget. Maksud saya, pas bensin di tangki motor benar-benar habis, dekat dengan orang jualan bensin eceran. 

Seperti kebanyakan penjual lainnya, ada beberapa botol yang dipajang di halaman ruko. Biasanya menggunakan tempat dari kayu dengan atas. Atap tanpa atap.

Tempat di mana saya berhenti bukan hanya berjualan bensin eceran. Karena saya lihat seorang pemuda masih melayani pembeli pulsa. Ia berdiri di belakang etalase tempat jualan pulsa.

Selain dirinya ada juga seorang perempuan yang tengah menyeterika. Karena ruko utamanya dijadikan untuk laundry kiloan.

Satu menit, dua menit, si pemuda masih melayani pembeli yang sama.

Saya berinisiatif mengisi sendiri. Toh tidak membutuhkan tenaga yang banyak. Saya pun mengambil salah satu botol yang dipajang.

Berikutnya saya mencari corong untuk mengisi bensin ke lubang tangki motor. Saat itulah saya dengar si pemuda berteriak dan mencegah saya.

Lalu ia bergegas mendatangi saya dengan membawa satu botol bensin jenis Pertalite. Sama dengan yang ada di tangan kanan saya.

Setelah dekat ia mengatakan jika bensin yang ada di tangan saya bukan bensin yang sebenarnya. Melainkan air biasa yang diberi pewarna sehingga tidak akan bisa dibedakan jika tidak diberitahu.

Kami pun lantas berbincang. Ia sampaikan ke saya, awal jualan bensin eceran ia meletakkan botol bensinnya di tempat di mana tadi mengambilnya.

Namun belakangan ada orang-orang jahat yang memanfaatkan kesempatan. Ketika dirinya sedang masuk ke dalam, ada saja yang menyikat botol bensinnya.

Modusnya ialah menjalankan motornya pelan-pelan, biasanya berboncengan, lalu orang yang duduk di belakang mengambil botol bensin dan pergi begitu saja.

Itu bukan sekali dua kali, melainkan berkali-kali. Sementara untuk satu botol bensin yang diambil, untungnya tak seberapa. 

"Lantas saya meniru cara jualan bensin beberapa orang. Pakai bensin abal-abal sebagai penanda bahwa di sini ada bensin," tutur si pemuda.

Saya sempat bertanya apakah ada yang sempat menuangkannya sendiri seperti yang hampir saya lakukan.

Ia menjawab pernah, saat dirinya memang sedang sibuk. Namun usai peristiwa itu ia mengikat kepala botol botol bensin jualannya.

Saya lihat sekilas memang ada tali tafia yang dimaksud, namun sudah usang. Tadi saya ambil botom bensin "tipuan" yang tak lagi terikat.

Begitulah tipisnya rasa percaya itu. Hanya sebotol bensin. Saya kok percaya siapa orang yang nyolong bensin eceran tahu jika untungnya per botol tak seberapa.

Tulisan kali ini juga semacam peringatan bagi Anda yang kebetulan berkunjung ke Tanjungpinang. Lalu muter-muter menggunakan motor atau mobil.

Jika kebetulan kehabisan BBM, sebaiknya tunggu saja yang jualan bensin eceran keluar. Biar pemiliknya yang melayani.

Benar, Anda mungkin berniat baik meringankan beban penjualnya yang sibuk dengan jualan lainnya. Tetapi kalau mesin kendaraan Anda rusak karenanya?

Rasa percaya itu semakin menipis, hingga ke sesuatu yang untungnya sangat tipis. Miris. ***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel