Chat WA dari Petugas Lapangan PLN yang Bikin Adem

petugas-pln-yang-bikin-ati-adem

Salah satu masalah listrik yang kerap terjadi di ruko tempat saya bekerja ialah tiba-tiba meteran muncul tulisan periksa.

Jika sudah muncul seperti itu, maka artinya terlambat mengisinya. Jika kemudian buru-buru membeli kuota di toko sebelah atau lewat mobile banking, tetap tak bisa dimasukkan kode vouchernya.

Sebenarnya sudah mencoba beberapa tukang instalasi untuk mengecek adakah sambungan atau jaringan yang tidak rapi. Namun paginya janji menyelesaikan punya orang lain baru ke ruko, eh sampai malam pun nggak datang.

Solusinya bagaimana dong? Sebelum muncul tulisan periksa, ya harus diisi dahulu dengan cara normal. Masalahnya, kadang teman-teman di lantai dasar yang seharusnya memeriksa meteran sering lupa.

Selama ini jika muncul persoalan ini tinggal mengadukannya melalui aplikasi PLN yang sudah saya unduh gratis di ponsel. Cepet sih penanganannya, kecuali memang petugas di lapangan sibuk banget.

Kalau seharis banyak warga yang komplian ya para petugas pasti sibuk bukan main. Saya sih biasanya sabar menunggu. Sekian lama aku menungunggu untuk kedatanganmu.... kata Rhoma Irama.

Dahulu, setiap kali saya menelepon call center PLN, nggak lama ada petugas yang datang. Mereka pencer-pencet tombol di meteran, minta kode voucher kuota PLN yang brusan dibeli, dimasukkan, tekan enter, selesai.

Jujur saja, entah berapa kali para petugas datang hanya untuk memperbaiki hal tersebut. Lama-lama saya merasa nggak enak juga.

Lalu saat petugas terakhir datang, saya coba minta maaf apakah nggak ada solusi biar lebih aman. Kasihan juga sih datang dan datang setiap kali muncul tulisan periksa itu.

Oleh seorang petugas saya diberi nomor WA dia. Tujuannya, jika muncul tulisan periksa lagi saya tinggal fotokan meteran, gunanya supaya ia tahu nomor ID Pelanggan PLN lalu diupayakan solusi cepatnya.

Setelah itu setiap kali periksa dan saya kirimkan foto meteran, tak lama dikirim kode unik untuk menghilangkan periksa. Begitu kode voucher dimasukkan, maka secara otomatis pulsa masuk ke meteran.

Saya anggap itulah solusinya. Para petugas nggak perlu susah payah datang ke ruko tempat saya bekerja. Cukup jepret kitim foto, tunggu balasan, dipraktikkan, selesai.

Nah, beberapa hari lalu saya nggak dengar ada nomor asing masuk dalam daftar panggilan tak terjawab. Saya pikir mungkin orang mau pesan konten artikel buat blognya hehe. Saya diamkan saja.

Sorenya, menjelang maghrib tiba-tiba nomor itu memanggil lagi. Saya sudah di rumah karena sudah memasuki bulan Ramadan. Biasanya pulang agak malam hari itu lebih cepat.

Ternyata ia seorang petugas lapangan PLN. Ia sampaikan jika ialah yang pagi menelepon tetapi karena tidak saya jawab.

"Mungkin Bapak sibuk pagi tadi," ujarnya.

Ia kemudian meminta izin mengganti meteran di ruko saya. Ia menjelaskan secukupnya, hingga ada satu pertanyaan yang lalu saya tanyakan ke dia.

Pertanyaan ini hanya sekadar mencoba, sebab saya dan Anda sudah pasti tahu jawabannya. Aturannya juga sering kita baca.

"Bayar berapa, Mas?" tanya saya.

"Nggak ada bayar Pak," jawab petugas PLN.

Seperti yang saya duga, begitulah jawabannya. Lantas saya persilakan dirinya mengerjakan tugas yang diberikan kantornya untuk melayani pelanggan PLN.

Tak berapa lama, pekerjaan itu sudah selesai. Kebetulan masih ada teman ada di ruko, jadi ia bisa sementara mematikan perangkat elektronik dan lampu lain selama penggantian meteran.

Bukan karena meteran baru yang membuat hati saya adem. Melainkan, sebuah chat yang dikirimkan petugas lapangan PLN tadi.

Ia fotokan jika meteran PLN saya sudah terbaru dan sudah terisi pulsa yang sebelumnya disiapkan teman saya yang masih ada di ruko.

Ia juga mengiriman chat WA yang benar-benar membuat saya berpikir, masih ada pegawai baik di negeri ini. Lalu doa baik saya pun mengalir untuknya saat itu juga.

Meski ia sudah di atas kendaraan melaju cepat, mungkin untuk mengejar waktu biar bisa berbuka bersama keluarga, saya percaya doa saya untuknya sampai. Gusti Allah kan maha hebat. 

Ia menuliskan kalimat dengan kata-kata yang biasa. Bukan menggunakan diksi yang aneh-aneh. Intinya hanya mengabarkan jika meteran di ruko tempat saya bekerja sudah diganti yang baru.

Namun ia memberikan kalimat penutup: sama-sama pak, selamat berbuka puasa. Lantas di bagian akhir ia memberikan simbol tangan bersedekap tanda terima kasih.

Sesederhana itu sebenarnya untuk membuat orang lain merasa senang. Bahkan melalui pesan WhatsApp pun bisa.***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel