Kisah Inspirasi Bintan Wrapping

cutting sticker update - Ini adalah kisah dan pengalaman saya ketika membasarkan sebuah usaha cutting sticker dari kaki lima menjadi usaha yang mampu menopang kehidupan perekonomian saya dan keluarga. 

Stiker bisa menjadi pekerjaan utama. Namun untuk menggapai keberhasilan tentu dibutuhkan perjuangan yang berat. Berikut ini adalah apa yang saya lakukan ketika saya juga masih bekerja sebagai wartawan sebuah koran grup Jawa Pos di Provinsi Kepulauan Riau, hampir 10 tahun lalu. 

Meski akhirnya saya kembali ke passion menulis sebagai blogger, namun dalam rentang waktu menangani sticker bisa menjadi gambaran bagi sobat semua. Tulisan ini merupakan duplikat dari blog saya di metrosticker.wordpress.com yang saya perbaiki di sana-sini. 
Bisnis menarik yang jarang dilirik

Selepas kuliah, tahun 2000-an, saya berangkat ke Batam untuk bekerja. Selama sekian tahun di Batam akhirnya saya dipindah ke Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau, Kota Tanjungpinang. Perjalanan dari Kota Batam ke Kota Tanjungpinang bisa ditempuh dengan kapal penumpang dari Pelabuhan Punggur ke Pelabuhan Sri Bintan Pura.

Ada kapal yang melayani rute tersebut hampir setiap satu jam sekali. Saat ini bahkan sudah ada pesawat terbang dari Kota Batam ke Kota Tanjungpinang pergi pulang.

Di Tanjungpinang, saya bekerja seperti biasa. Hingga suatu hari saya mencoba mencari gagasan apa yang bisa saya lakukan jika malam hari. Sebab pekerjaan sebagai wartawan agak luang kalau malam hari.

Dari berbagai pilihan akhirnya ada beberapa pilihan. Saya ambil kertas kosong, saya telaah satu persatu hingga akhirnya saya putuskan untuk membuka sticker.

Saya kebetulan punya teman, pedagang sticker yang pernah beberapa kali saya buat beritanya sewaktu di Kota Batam. Ia adalah Mas Fahmi Muhdlor, yang mengawali jualan sticker menggunakan gerobak dorong di sekitar Pasar Jodoh. Ketika saya memutuskan untuk mengikuti jejaknya, ia sudah memiliki dua toko di Pelita. Saat ini Alva Variasi, nama tokonya, pindah lagi ke kawasan Jodoh.

Dari dialah akhirnya saya banyak berbincang. Hingga akhirnya saya benar-benar berjualan sticker cutting. Hanya menjual, karena bayangan saya hanya mengisi waktu luang malam hari, selepas pulang dari kantor ngurus berita.

Tempat pertama saya adalah trotoar depan Rumah Makan Rina-Rini Batu 9, Kota Tanjungpinang. Hanya sebuah trotoar yang tidak usah bayar. Sticker dari Mas Fahmi saya pajang dengan plastik, memanjang. Saya ditemani dua orang, Jais Anggara (sekarang mengelola CV Dua Sahabat) dan Edy (sekarang mengelola usaha pulsa dan aksesoris ponsel).

Awalnya ragu, apa benar keputusan saya memilih sticker. Memang modal awalnya sangat kecil, tetapi rasa pesimis beberapa orang yang saya ajak diskusi sempat membuat saya ragu. Namun apa yang harus diperbuat, sticker sudah telanjur saya bawa dari Kota Batam.

Ternyata keyakinan yang akhirnya bertahan. Lambat laun tempat sticker kakilima saya dikenal. Bisa dikatakan sayalah peletak batu pertama berjualan sticker malam hari di Kota Tanjungpinang. Bukan memilih malam, lantaran siangnya saya kan harus bekerja.

Hasilnya luar biasa setelah sebulan dihitung. 

Langkah kedua yang saya ambil ialah membuka kios kecil di depan RRI, Kota Tanjungpinang. Saya sewa satu dari beberapa pintu kios di sana. Saya dibantu seseorang yang sangat berjasa kepada saya (terima kasih Mbak Is).


Setahun kemudian saya menyewa secuil dari sebuah ruangan toko di Jalan Bintan yang dipakai untuk agency majalah dan koran. Saya hanya menggunakan ukuran meja dan kursi. Saya nggak tahu dalam perjalanan waktu agency tersebut tutup sehingga rukonya saya yang melanjutkan sewanya. Kios di depan RRI saya tutup.

Di Jalan Bintan saya sudah bisa membeli sebuah mesin cutting. Namun saya masih tetap berkerja di koran. Malamnya saya hanya menerima pesan dari orang yang membantu saya kalau ada pesanan sticker. Toko di Jalan Bintan Nomor 12 ini saya beri nama Sahabat Sticker.

Oh, ya, ketika mulai berjualan sticker saya sudah membuat blog. Memang begitulah kebiasaan saya, selalu membuat blog untuk sesuatu yang saya pikir akan mengundang banyak orang agar lebih tahu. Dan itu harus dilakukan dengan membuat artikel atau konten terkait di blog.
Toko2
Namun ada orang-orang hebat yang mendukung saya. Salah satunya pemilik merek bahan sticker merek Seicho, Pak Suganda Tjokro. Beliau orang yang memberikan perhatian sangat besar terhadap usaha saya. (Mohon maaf Pak, sampai sekarang belum bisa membalas segala kebaikan itu).

Ekspansi saya lakukan. Seperti saya singgung di atas, tempat jualan kaki lima saya jadikan  Pasar Stiker. Jika toko utama buka siang hari, Pasar Stiker buka malam hari untuk menjaring calon pembeli yang hanya memiliki keluar rumah malam hari.

Jangan bayangkan pasar itu semuanya ada, yang ada hanya stiker. Tetapi begitulah cara saya membranding sesuatu, membuat orang penasaran. Saya memercayakan kepada teman dekat untuk menunggunya. Dan ….. berhasil.
Blog - Pasar Stiker

Ekspansi saya tak terhenti sampai di sini. Tanggal 5 Januari 2014 lalu saya pun membuka Bintan Wrapping, pusat wrapping dan stiker variasi di Kepri. Tempat ini saya buka karena banyaknya permintaan dari pemilik kendaraan roda empat pada khususnya. Lokasinya di Jebong Cafe (sekarang sudah tak ada lagi), di depan PLN Batu 9.
Blog - Bintan Wrapping7
Ekspansi terus saya lakukan, tiga bulan kemudian saya membuka Bintan Wrapping 2 di komplek SPBU Batu 16 arah Tanjunguban, Bintan. Selain wrapping, di sini saya melayani pemasangan kaca film mobil.
Bintan Wrapping 2
Mengingat toko di Jalan Bintan dan Pujasera Jebong membutuhkan tempat yang lebih luas, pada tanggal 10 Maret 2015 kedua tempat tersebut saya satukan di sebuah ruko. Saya beri nama Bintan Wrapping, di JL DI Panjaitan Nomor 52 Batu 9, Tanjungpinang, Kepri. Alhamdulillah tempat yang lebih luas mendapatkan respon pelanggan maupun konsumen baru.
BW3
BW1

Setelah itu, untuk membagi karyawan saya buka Istana Sticker di Jalan Soekarno Hatta. Istana Sticker kemudian dikelola secara mandiri oleh salah satu mantan karyawan saya, Rapensa Nafulani (Reza). Saat ini pindah ke Batu 8.

Baca Juga : Pengertian Cutting Sticker

Ya, Bintan Wrapping di Batu 9 seolah menjadi semacam kampus bagi beberapa orang yang pernah bekerja di dalamnya. Saya tidak mengajari mereka, namun diantara mereka saling berbagi ilmu.

Di antaranya Ucok yang kabarnya membuka usaha sticker di Padang Sidimpuan, Ali yang kemudian balik ke Boyolali, Rapensa Nafulani (Reza) yang kini mengelola Istana Sticker, Topo Broto van Ngandjoek yang kemudian membuka Kaozoka di Tanjungpinang, Fauzi Ahmad Riza yang kini membuka Abee Kreatif di samping Perumahan Air Raja, Batu 16 arah Tanjunguban, Bayu yang sekarang kabarnya juga mengelola sticker di Batam.

Ada juga Bayu Blitar yang saat ini menekuni bisnis online masih berkaitan dengan sticker, Ivan yang kini membantu Rezaa di Istana Sticker. 

Terakhir ada Helmi dan Izulman yang saat ini mengelola Inilah Sticker di Jalan Sidorejo. Saya sendiri back to passion dengan mengelola suarasiber.com, masnunung.com dan cuttingstickerupdate.com. ***

3 Responses to "Kisah Inspirasi Bintan Wrapping"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel