Rezeki Itu Sudah Ada di Depan Mata Si Badut, Namun...

Sore tadi, Sabtu (30/7/2022) saya mencari bahan artikel. Bagi saya, untuk mengisi blog ini nggak harus menentukan rencana ke mana.

Kalau memang ada momen yang sudah direncanakan bisa saja. Namun sebagai blogger amatir, saya kadang nggak punya waktu di saat sebuah kegiatan yang sudah direncanakan tadi dilaksanakan.

Sibuk bangetkah saya? Nggak juga, sama seperti Anda yang masih merasa sebagaimana manusia kebanyakan. Sesuatu yang tak penting dianggap terlalu penting, hal sepele dianggap sepuluh, akhirnya yang benar-benar penting malah lupa.

rezeki=badut-taman
Sumber foto - pixabay/alaxas_fotos

Saya menikmati suasana petang di Taman Batu 10, menyaksikan puluhan pedagang yang sedang menikmati prime time-nya. Menjelang maghrib, komplek ini selalu ramai oleh warga yang menantikan maghrib datang.

Mereka membawa istrinya, suaminya, orang tuanya, anaknya, pacarnya, selingkuhannya dan sebagainya. Semarak. Apalagi para pedagang menempatkan gerobaknya di bawah rerimbunan pohon.

Tempat inilah yang beberapa waktu lalu menjadi lokasi Presiden Jokowi menyerahkan bantuan langsung tunai (BLT) untuk para pedagang.

Saya duduk di ruang tunggu di area yang juga menjadi lokasi Dinas Perhubungan Kota Tanjungpinang. Hari ini ASN libur, sehingga suasana kantor pelat merah ini sepi. Lengang.

Seorang perempuan muda berjilbab tampak ragu mau duduk di sebelah kanan saya. Mungkin ia merasa nggak nyaman sudah ada saya yang duduk duluan. Padahal bangku beton sepanjang tiga meter yang saya duduki milik orang lain juga.

Pemerintah yang membangun, masyarakat bebas menggunakannya.

Namun akhirnya ia duduk juga di samping kanan saya. Ia duduk bersama seorang gadis cilik, entah adiknya, ponakannya atau anaknya. Hanya duduk untuk makan snack. Sehabis itu pergi ke kerumunan para pedagang.

Di depan saya, berjarak 10 meteran, seorang warga mengenakan kepala badut. Ia siap beraksi.

Yang ditujunya ialah taman di depan Dinas Perhubungan yang memang sangat menyanangkan untuk duduk duduk. Di sini sudah dibangun bangku berbentuk bulat. 

Alam terbuka masih menyisakan celah bagi angin untuk berhembus bebas. Di sampingnya adalah halaman kantor yang sangat luas, sementara di seberangnya ada sejumlah bangunan. Salah satunya muasala yang bisa digunakan masyarakat dengan bebas.

Si Badut lalu mendatangi satu demi satu pengunjung taman. Ia tak pandang bulu. Siapa saja yang duduk didekatinya lalu ia mulai menggoyangkan badannya.

Jika warga yang didekati mengangkat tangannya sambil menggerak-gerakkannya ke kanan dan kiri, tandanya ia nggak mau diganggu.

Maka di badut akan pindah ke pengunjung taman yang lain. Saya asyik memperhatikan badut yang membawa rape kecil sebagai sumber suara untuk musik pengiring goyangannya.

Tiba-tiba ada seorang perempuan berjilbab duduk bersama anaknya di sebelah kiri saya. Ibunya menikmati potongan demi potongan jambu bangkok yang saya pastikan dibeli dari pedagang di lokasi ini.

Anaknya menikmati satu cup es krim. Keduanya sambil bercengkerama. 

Si anak kemudian bilang ke ibunya, ingin memberikan uang kepada badut. Ibunya bukan melarang atau menolak keinginan anaknya. Namun ia meminta anaknya menghabiskan es krimnya.

"Nanti Mas Badutnya dari sana akan datang ke sini," kata Si Ibu.

Sementara badut yang dimaksud masih berkeliling mengitari para pengunjung taman. Dari pengamatan saya, badut hanya mendapatkan empat kali uang pemberian pengunjung taman.

Si anak dekat saya sudah nggak sabar. Oleh ibunya ia diberikan selembar uang kertas Rp10 ribu.

Ternyata badut yang ditunggu nggak balik lagi ke tempat ia masuk. Ia justru keluar dari lokasi taman melalui jalan di ujung.

Betapa kecewanya anak kecil di samping kanan saya. Seketika itu ia langsung ngambek, pelit bicara dengan ibunya.

"Ya sudah, nanti balik dari sini kita mutar di jalan. Siapa tahu ketemu Mas Badut, nanti uangnya adik kasih, ya?" bujuk ibunya.

Tak lama ibu anak ini meninggalkan kawasan Taman Batu 10. Saya lihat dari tempat saya duduk, mereka terlihat berboncengan di jalan. Mungkin ibunya pelan-pelan mengendarai sepeda motornya agar bisa ketemu badut.

Hm... rezeki memang sudah diatur oleh Allah Yang Maha Kuasa. ***

0 Response to "Rezeki Itu Sudah Ada di Depan Mata Si Badut, Namun..."

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel