Nasi Pecel Terdekat, Perjuangan Pedagangnya Jadi Bumbu Terlezat

nasi-pecel-terdekat

Nasi pecel terdekat itu ada di dekat kantor saya bekerja. Ruko tempat saya bekerja di Blok O Nomor 14, Komplek Bintan Center, Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau.

Tetapi jangan sampai keliru, Provinsi Riau berbeda dengan Kepulauan Riau. Saya khawatir setelah Anda membaca tulisan ini lalu mencari lokasi pecel lele yang akan saya tuliskan ini, nggak ketemu.

Komplek Bintan Centre itu di Provinsi Kepulauan Riau. Disingkatnya Kepri. 

Biasanya saya turun dari lantai dua, lalu melewati beberapa halaman ruko. Kalau jalan kaki tak sampai 10 menit, paling lama 7 menit kalau jalannya sambil tengok kanan-kiri.

Nasi pecel terdekat ini tidak berada di dalam warung. Tak ada meja untuk pajangan bumbu, sayur, nasi, lotong, rempeyek dan printilan lain yang biasanya ada pada nasi pecel.

Semuanya diletakkan di bagasi belakang sebuah mobil jenis minibus. Pintunya dibuka ke atas, ditambah terpal dan payung lebar sebagai peneduh pedagangnya dari sinar matahari.

Nasinya di dalam termos, bumbunya dalam kotak plastik berukuran lebar, demikian juga dengan bakwan serta sayurannya. Ada sebuah gantungan, isinya telur asin.

Kata pedagangnya laku, karena memang nasi pecel itu mak nyusnya, salah satunya ya saat disantap dengan telur asin.

Nah itulah hebatnya Gusti Allah, karena pecel itu identik dengan Madiun di Jawa Timur. Sedangkan telur asin itu yang paling terkenal ya di Tegal, Jawa Tengah.

Keduanya dijadikan perpaduan yang nikmat. Makanannya saja rukun, saling melengkapi. Lha kok manusianya masih suka berkelahi. 

Nasi pecel terdekat ini diberi merek Texas oleh pemiliknya, namanya Pak Malik. Ia merupakan perantau asal Kediri, Jawa Timur. Saya pernah menyempatkan diri ngobrol agak lama dengan lelaki yang juga seorang pegawai sebuah instansi di Pemda ini.

Mengapa Nasi Pecel Texas? Jauh amat, sementara diberi cap Nasi Pecel Madiun saja orang sudah penasaran. Nasi pecel di Tanjungpinang hanya ada beberapa, berbeda dengan nasi lemak atau nasi Padang. Tetapi nama Texas pasti ada maknanya.

Menurut Pak Malik, ia membayangkan kehidupan di Texas. Sebuah kota yang terkenal dengan koboi-nya, meski sekarang pasti sulit menemukannya. 

"Saya ingin bisa pindah-pindah jualan, seperti makanan kaki lima di Texas," ungkapnya.

Nyatanya Pak Malik yang dibantu istrinya, Ibu Acen, memang lokasi jualannya pindah-pindah. Setidaknya setahun sekali selama sebulan nasi pecel terdekat dengan kantor saya ini akan pindah lokasi di tepi jalan utama, Jalan DI Panjaitan.

"Setiap Ramadan kami jualan di tepi jalan," tutur Ibu Acen yang dari Senin sampai Senin lagi melayani pelanggan nasi pecelnya. Sementara Pak Malik hanya bisa mendampingi istrinya jualan di hari Sabtu dan Minggu.

Ada tiga menus yang ditawarkan. Pertama nasi pecel, kedua lontong pecel, ketiga bakwan pecel. Terserah selera Anda, maunya bumbu pecel dituangkan ke nasi, atau lontong atau bakwan?

Tetapi jangan khawatir, meski Anda memesan nasi pecel maka tetap mendapatkan bakwannya. Meski hanya beberapa cuil, jadilah.

Anda ingin tahu mengapa saya langganan nasi pecel pasangan suami istri ini? Karena perjuangan keduanya. Sesuatu yang sulit dan butuh perjuangan akan menghasilkan sesuatu yang manis.

Mengapa memilih jualan nasi pecel? Itu salah satu pertanyaan yang akhirnya mengajak hati saya untuk menjadi langganan. 

Ibu Acen adalah seorang perempuan yang lahir dari keluarga warga Tionghoa yang tinggal di Batam. Kalaupun pandai memasak, tentulah makanan khas leluhurnya.

Toh banyak sekali warga Tionghoa yang sukses berjualan makanan di Tanjungpinang. Namun ia justru memilih nasi pecel, makanan yang tidak dikenalnya dari kecil hingga remaja.

Mualaf ini kemudian menerima tantangan suaminya untuk menekuni nasi pecel Madiun di Tanjungpinang. Rupanya, keluarga ini pernah mengalami kesulitan perekonomian sehingga harus memikirkan bagaimana mencari solusinya.

Berkat Nasi Pecel Texas, Pak Malik mengaku beban perekonomian keluarganya akhirnya terselesaikan. Dan sampai tulisan ini diunggah, sudah lima tahun nasi pecel terdekat ini melayani pelanggaannya.

Mereka bukan hanya dari Tanjungpinang, melainkan juga beberapa wilayah di Kabupaten Bintan. Kalau yang jauh seperti Tanjunguban, seminggu sekali baru datang.

Begitulah, kadang-kadang saya menemukan kelezatan sebuah manakan bukan semata bumbunya. ***

0 Response to "Nasi Pecel Terdekat, Perjuangan Pedagangnya Jadi Bumbu Terlezat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel