Sebuah Kisah Mesin Fotokopi di Ujung Lorong RSUD Kota Tanjungpinang

mesin-fotokopi-12921

Mesin fotokopi kala itu benar-benar saya butuhkan. Saya harus segera memperbanyak berkas yang diberikan perawat sebuah rumah sakit milik pemderintah daerah.

Hari itu salah satu anggota keluarga saya dinyatakan boleh pulang setelah menjalani operasi. Opname dua malam dianggap cukup oleh dokter spesialis yang menanganinya.

Sebelumnya seorang perawat yang diminta dokter membantu mengurusi berkas kepulangan menyodorkan berkasnya. Ia meminta saya untuk memfotokopi sebanyak dua lembar per berkas.

Jujur saja saya memang tidak familiar dengan lorong-lorong yang ada di rumah sakit ini. Seperti kebanyakan rumah sakit dengan bentuk bangunan lama, antar bangunan dihubungkan dengan koridor-koridor.

Papan-papan penunjuk ruangan sangat banyak. Dari poli, ruang bedah, ruang tunggu, Instalasi Gawat Daurat, ICU hingga kamar mayat.

Daripada keluar dari rumah sakit dan harus memutar mencari di mana ada fotokopi terdekat, saya bertanya kepada seorang perawat.

Lalu saya ditunjukkan jika di samping warung rumah sakit tersedia mesin fotokopi. Alhamdulillah, saya mengucapkannya dalam hati.

Saya nggak butuh mesin fotocopy berwarna karena hanya memperbanyak berkas sebagai arsip kepulangan yang dibutuhkan pihak rumah sakit.

Saya juga nggak membayangkan akan mendapatkan harga fotocopy murah, karena hanya sekitar tujuh atau delapan lembar yang harus saya perbanyak.

Lalu saya menyusuri lorong, belok kanan, turun ke bawah, melewati area parkir dan terlihat tulisan fotokopi.

Saya melangkahkan kaki ke sana. Ada tiga orang di dalam ruangan yang ternyata juga digunakan untuk toko.

Seorang perempuan di dalam, seorang lelaki duduk di kursi dan seorang perempuan berdiri.

Ketika saya sodorkan berkas untuk difotokopi, lelaki yang duduk mengatakan mesin fotokopi masih rusak.

Lalu ia berdiri menghampiri saya sambil menunjukkan lokasi fotokopi terdekat. Saya harus keluar rumah sakit, mencari masjid agung, nah di depan tempat ibadah itulah ada toko yang juga menyediakan mesin fotokopi.

Saya bergegas keluar toko. Baru dua langkah, perempuan berjilbab berkacamata yang tadi berdiri di dalam toko memanggil saya.

"Berapa banyak yang mau difotokopi, Bang?" tanyanya.

Saya tidak manjawab, hanya menunjukkan berkas yang ada di tangan kanan saya.

Sejurus kemudian perempuan tadi mengajak saya ke kantornya. Ia mengatakan di kantornya ada mesin printer fotocopy.

Saya tidak tahu di mana kantornya. Dari toko yang mesin fotokopinya rusak, kami berjalan menuju tempat parkir. 

Saya memilih di belakang. Melewati tempat parkir ada sebuah bangunan atau kantor yang masih dalam lingkup rumah sakit.

Perempuan separoh baya itu pun meminta berkas saya setibanya di teras kantornya. Ia meminta saya menunggu sementara ia masuk ke dalam ruangan.

Saya melangkah ke dalam, ke lorong kecil yang terdapat sebuah kursi panjang. Saya duduk di situ.

Sambil menunggu berkas saya selesai difotokopi, saya keluarkan ponsel dan mulai membuka aplikasi. Seperti biasa, saya membuka WhatsApp untuk mengetahui apakah ada pesan penting.

Nggak ada, hanya ada tambahan rilis liputan gubernur dan wakil gubernur di grup WhatsApp. 

Samar-samar saya dengar percakapan antara perempuan yang membawa berkas saya dengan perempuan lain yang ada di dalam ruangan.

Di antara suara manusia, telinga saya yang beberapa kali dibersihkan oleh dokter ahli telinga, hidung tenggorok mendengar suara printer bekerja.

Saya nggak berani memastikan apakah itu suara mesin print dan fotocopy yang sedang ngeprint sekaligus fotokopi.

Kira-kira 10 menit perempuan tadi sambil membawa berkas yang sudah difotokopi. 

Tampaknya ia sangat hafal harus diserahkan ke mana ketiga berkas saya tadi. Awalnya hanya satu bendel, setelah masuk mesin fotokopi dan diperbanyak rangkap dua, kini menjadi tiga.

Ia sebutkan sayang satu serahkan ke bagian mana, satunya ke mana dan satunya kepada perawat yang meminta saya memotokopi berkas.

Saya tatap mata perempuan di depan saya, sambil menanyakan berapa ongkos fotokopinya.

"Nggak usah, Bang. Saya hanya menolong, daripada fotokopi jauh-jauh. Lagian hanya beberapa lembar," ujarnya tulus.

mesin-fotokopi-129212
Di ruangan kantor inilah seorang pegawai rumah sakit berbaik hati memotokopi berkas administrasi yang harus saya perbanyak. Foto - cuttingstickerupdate

Saya mengucapkan terima kasih. Saya membalikkan badan dan dalam hati mendoakan agar para pegawai yang memiliki perilaku seperti perempuan itu diberikan kemudahan urusan baiknya.

Sambil berjalan saya berpikir, jika ada 8 lembar yang harus difotokopi masing-masing rangkap dua, maka ada 16 lembar yang masuk mesin fotokopi.

Apalagi bentuknua mesin printer fotocopy, pasti prosesnya lebih lama. Berbeda jika diproses menggunakan mesin fotokopi beneran.

Begitu masuk, langsung pencer pencet tombol perintahnya maka akan bekerja sendiri.

Saya masih terngiang kalimat perempuan baik hati yang menolong saya. "... hanya beberapa lembar..."

Bagi saya 16 lembar bukan hanya beberapa, apalagi saya tahu pasti jam itu bukan jam istirahat. Artinya ada pekerjaan yang harus dilakukan ketimbang mengurus berkas saya yang saudara juga bukan.

Belokan demi belokan lorong kulewati dan sampailah di ruang perawat. Saya serahkan berkas asli dan fotokopi.

Seorang petugas lelaki menanyakan apakah saya juga sudah fotokopi kartu BPJS atas nama pasien. Saya katakan belum.

Saya nggak memberitahu dia jika perawat yang ada di sebelahnya yang meminta saya memotokopi berkas tidak meminta fotokopi kartu BPJS.

Toh nggak ada gunanya juga saya sampaikan lalu diantara mereka saling menyalahkan. Lagian saya juga nggak perlu jauh-jauh fotokopi berkas barusan.

Kini saya tidak menuju mesin fotokopi di ujung lorong yang saya pastikan masih rusak. Saya ambil kunci sepeda motor, sambar jaket biru tua yang umurnya sudah tujuh tahun (nggak percaya kan?) dan bilang ke anggota keluarga yang akan pulang ke rumah, bahwa saya harus fotokopi kartu BPJS.

Saya masih ingat lokasi yang ditunjukkan oleh lelaki di toko yang mesin fotokopinya rusak. Saya ke sana dan alhamdulillah memang ada.

Dalam perjalanan pulang, sambil pelan-pelan menarik gas, saya berpikir beginilah cara Tuhan mengatur nafas kehidupan.

Pasti karena kebesaran-Nya ada perempuan baik hati memotokopi berkas saya dengan mesin printer fotocopy di kantornya. Pasti Tuhan juga yang mengatur skenario nengapa perawat yang meminta saya memperbanyak berkas tidak meminta saya juga memotokopi kartui BPJS.

Dan pasti atas kuasa Tuhan juga ada lelaki yang memberitahu saya di depan masjid agung ada fotokopi. Padahal ketika saya membayar parkir, sempat bertanya kepada petugas parkir di mana tempat fotokopi terdekat.

Dijawab ada dua lokasi, namun jelas lebih jauh ketimbang yang ditunjukkan lelaki di kantir rumah sakit yang ada mesin fotokopi rusak.

Dan itulah keadilan itu. ***

0 Response to "Sebuah Kisah Mesin Fotokopi di Ujung Lorong RSUD Kota Tanjungpinang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel