Perawatan Isolasi Mandiri di Rumah (sebuah pengalaman)

perawatan-isolasi-mandiri-di-rumah

Perawatan isolasi mandiri di rumah pernah saya lakukan saat dinyatakan terpapar Covid-19 hampir sebulan yang lalu.

Melihat kurun waktunya, bisa diketahui bahwa saya terpapar Covid-19 belum lama, belum ada sebulan. Sehingga masih segar dalam ingatan saya seperti apa perawatan isolasi mandiri di rumah.

Awalnya badan saya terasa panas, demam, sebut saja seperti itu. Itu sore hari, lalu saya minta izin pulang ke rumah lebih awal. Saya ingin istirahat.

Malamnya tulang saya terasa linu, tidur dengan gaya apapun terasa nggak nyaman sama sekali. 

Pakai kolor dan kaos nggak nyaman, pakai sarung nggak nyaman. Karena bukan pakaian yang membuat nggak nyaman.

Keesokan harinya saya mendatangi klinik untuk swab antigen. Hasilnya diketahui satu jam kemudian. Saat diberikan amplop berisi hasil uji laboratorium setelah hidung saya dicucuk, saya dinyatakan negatif.

Panas biasa rupanya, pikir saya. Uniknya, begitu sampai rumah saya memilih untuk perawatan isolasi mandiri di rumah. 

Usai swab antigen saya istirahat. Keesokan harinya saya cek ke klinik karena tenggorokan saya sakit. Oalah ternyata radang tengorokan saya kambuh,

"Merah sekali," kata dokter yang menyenter bagian dalam mulut yang saya buka lebar-lebar.

Lima hari berselang, saya penasaran karena pada hari ke-3 setelah swab antigen hidung saya ogah diajak membau. Wah jelas nih pikir saya.

Saya mendatangi tempat PCR di posko BPBD, dan disuruh menunggu lima hari untuk mengetahui hasilnya. Sebelum hidung saya dicucuk dan cairan di pangkal lidah diambil, saya menjalani sesi tanya jawab.

Oh, ya, saya sudah mulai batuk-batuk. Gatal saja rasanya di tenggorokan. Kalau sebelumnya tenggorokan sakit karena radang, kali ini gatal-gatal dan ingin batuk.

Hari ke-3 menanti hasil PCR, anggota keluarga saya, merasakan gejala demam dan hilang penciuman. Saya minta mereka periksa dan hasilnya positif.

Justru anggota keluarga saya yang lebih dahulu ketahuan positif, sementara saya harus menunggu dua hari lagi untuk mengetahui hasil PCR.

Pas hari ke-5 usai PCR, sampai sore nggak ada kabar. Padahal saya sudah diminta menyebutkan nomor ponsel. Nomor ponsel yang cuma satu.

Penasaran, keesokan paginya saya ke lokasi PCR di Posko BPBD. Sudah agak siang sih, menjelang zuhur dan pas ketika sampai petugasnya sudah berkemas untuk pulang.

Saya menanyakan apakah hasil PCR saya sudah keluar, dan oleh seorang petugas saya dikasih nomornya.

"Bapak kirimkan saja ya fotokopi KTP, nanti saya informasikan," kata Si Mba sambil memberikan nomor ponsel dan namanya. Empat huruf, cukup singkat namanya.

Sampai rumah saya fotokan KTP saya yang seumur hidup itu, saya kirimkan ke Mba yang namanya empat huruf tadi.

Alhamdulillah dibaca. Dibaca doang ternyata hehe, karena satu atau dua jam berikutnya saya tanyakan kembali status saya.

Ealah, saya diberikan nomor lain. Ya sudah, saya simpan nomor itu dan saya kasih nama yang mudah, yang pasti ada Covid-nya biar gampang nyarinya di daftar kontak.

Barulah malamnya saya mendapatkan telepon. Saya nggak dengar telepon itu. Namun saya mendapatkan kiriman WhatsAPP yang isinya pemberitahuan jika saya positif Covid-19.

Saya pun dikasih tahu, besok akan dikirimkan obat. Dan obatnya nggak pernah datang hehe. Hingga saya tanya adakah merek obat yang disarankan biar saya beli sendiri di apotek.

Dan saya diberikan nama obatnya. Alhamdulillah di apotek ada.

Untuk perawatan isolasi mandiri di rumah, saya harus menggunakan gayung mandi sendiri. Demikian juga dengan anggota keluarga lain yang corona.

Makan kami memilih untuk katering. Beruntungnya tetangga tempat saya tinggal masih memiliki rasa kepedulian yang tinggi.

Ada yang mengantar parsel berisi kue, buah dan telur satu papan. Ada yang memberikan buah-buahan, sayur siap santap, pecel lele komplit sama snack yang jumlahnya cukup banyak.

Saya juga melengkapi diri dengan suplemen. Maka kami memiliki kegiatan baru setiap jam 09.00 sampai 10.00 WIB, yaitu berjemur di bawah terik.

Tak lupa saya hajar pagi hari dengan menyantap dua butir telur setengah matang. Air saya rebus sampai mendidih, lalu api kompor saya matikan. Dua butir telur ayam saya masukkan, tutup panci dan didiamkan selama 5 sampai 7 menit.

Tisu menjadi benda penting karena saya batuk dan mengeluarkan dahak. Oleh kakak saya yang juga penyintas Covid-19, ditegaskan agar tisu ditarus dalam kantong plastik.

Demikian juga dengan pakaian yang saya kenakan hari itu, langsung rendam sekian menit dan cuci.

Perawatan isolasi mandiri di rumah menjadi pengalaman yang lumayan berguna untuk saya ceritakan. 

Ketika saya share di sebuah grup WA, sejumlah teman mengatakan agar saya dan anggota keluarga tetap semangat. Jangan dibuat tertekan karena akan menghambat upaya peyembuhan.

Tahukan Anda saya sekarang punya kebiasaan baru setelah selesai isolasi mandiri. Yaitu setiap pagi sebelum kerja senam selama 30 menit di depan YouTube TV, ngikuti gerakan instrukturnya di layar.

Saya juga membawa botol minumen sendiri yang saya isi dengan air putih saya campur madu. Biasanya saya pesan apa yang dipesan teman di kantor. Mau teh hangat sampai beragam es dan jus dingin. 

Saya juga menyiapkan cairan hand sanitizer ukuran jumbo, satu liter ditaruh di lantai satu untuk dipakai tamu juga. Hand sanitizer ini dipesankan teman saya menggunakan akun toko online dia.

Jaga kesehatan semoga kita dijauhkan dari beragam penyakit. ***

0 Response to "Perawatan Isolasi Mandiri di Rumah (sebuah pengalaman)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel